Masyarakat Suku Irarutu Dorong Pembukaan Akses Jalan untuk Perkuat Pelayanan Publik di Teluk Bintuni

Selasa, 11 Agustus 2026    23:15 WIT    Robert

Teluk Bintuni, teraskasuari.com – Masyarakat Adat Suku Irarutu di Kabupaten Teluk Bintuni mendorong Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni untuk membuka akses jalan darat menuju sejumlah permukiman yang masih terisolasi. Keterbatasan akses transportasi dinilai berdampak langsung terhadap pelayanan kesehatan, pendidikan, serta meningkatnya biaya mobilitas masyarakat.

Kepala Suku Irarutu Kabupaten Teluk Bintuni, Engelbertus Kofiaga, S.Pd., menyampaikan bahwa salah satu wilayah yang masih menghadapi persoalan tersebut adalah Kampung Fruata. Berdasarkan data tahun 2024, kampung tersebut dihuni sekitar 674 jiwa dan hingga kini masih mengandalkan jalur sungai sebagai akses utama menuju wilayah perkotaan.

“Masyarakat sangat membutuhkan akses jalan darat karena selama ini mobilitas masih bergantung pada jalur sungai. Kondisi tersebut membuat perjalanan menjadi lama dan membutuhkan biaya yang cukup besar,” ujar Engelbertus Kofiaga.

Untuk mencapai wilayah tersebut melalui jalur sungai Kaitaro, masyarakat membutuhkan waktu sekitar 5–7 jam, dengan biaya sewa perahu yang dapat mencapai Rp2 juta untuk satu kali perjalanan. Kondisi tersebut menjadi beban tersendiri, terutama ketika masyarakat membutuhkan pelayanan kesehatan maupun harus melakukan perjalanan untuk keperluan pendidikan dan administrasi.

Menurut Engelbertus, keterisolasian wilayah tidak hanya berkaitan dengan persoalan transportasi, tetapi juga berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

Di bidang kesehatan, fasilitas yang tersedia masih terbatas pada Pustu atau Poskesdes dengan sarana yang belum memadai. Apabila terdapat warga yang membutuhkan penanganan medis lebih lanjut, proses evakuasi atau rujukan harus dilakukan melalui perjalanan yang cukup jauh dengan biaya transportasi yang tinggi.

Sementara itu, di sektor pendidikan, fasilitas sekolah yang tersedia baru mencakup jenjang SD dan SMP. Masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA harus keluar dari wilayah tersebut menuju pusat pemerintahan atau daerah lain yang memiliki fasilitas pendidikan lebih lengkap.

“Kami berharap pemerintah dapat melihat kondisi masyarakat yang masih sulit mendapatkan akses pelayanan dasar. Jalan bukan hanya untuk transportasi, tetapi juga membuka akses terhadap pendidikan, kesehatan dan kegiatan ekonomi masyarakat,” kata Engelbertus.

Suku Irarutu merupakan salah satu masyarakat adat Orang Asli Papua yang bermukim di wilayah Kabupaten Teluk Bintuni dan wilayah pesisir Kaimana. Di Kabupaten Teluk Bintuni, masyarakat Suku Irarutu tersebar antara lain di Distrik Kaitaro, Babo, Aroba dan Fafurwar.

Pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan perhatian terhadap pembangunan konektivitas menuju wilayah-wilayah yang masih terisolasi. Pembukaan akses jalan darat dinilai dapat menjadi langkah strategis untuk mengurangi biaya transportasi, mempercepat mobilitas masyarakat, serta meningkatkan pemerataan pelayanan publik.

Aspirasi tersebut juga menjadi perhatian penting karena pembangunan infrastruktur dasar di wilayah adat tidak hanya berkaitan dengan konektivitas, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta mengurangi kesenjangan pelayanan antara wilayah perkotaan dan pedalaman.
[rb]