Selasa, 25 Agu 2026
Senin, 24 Agustus 2026 17:28 WIT Rafael G
Ginoni Kosepa (Kiri) dan Moi Nawarisa (Kanan) Warga Distrik Tomu, saat menyampaikan aspirasinya untuk mendorong solusi air bersih khususnya di Distrik Tomu
Teluk Bintuni, teraskasuari.com - Setiap musim kemarau yang melanda Distrik Tomu, Kabupaten Teluk Bintuni, memicu krisis air bersih menahun yang dirasakan masyarakat di tujuh kampung kawasan tersebut.
Kondisi yang dialami warga Distrik Tomu ini merupakan persoalan berulang setiap musim kemarau. Warga setempat, Moi Nawarisa, membenarkan bahwa stok air hujan yang biasa diandalkan warga kini telah habis total akibat kemarau yang berlangsung kurang lebih tiga-empat bulan terakhir.
Menanggapi kondisi tersebut, tokoh masyarakat Distrik Tomu, Ginoni Kosepa, mengungkapkan bahwa warga kini terpaksa mengandalkan air kali pasang yang diambil dari titik perbatasan antarkampung untuk bertahan hidup.
“Sebagian air sungai kami rebus terlebih dahulu sebelum dikonsumsi untuk minum dan memasak, sedangkan sebagian lagi langsung digunakan untuk mencuci dan keperluan rumah tangga. Ketergantungan pada air sungai semacam ini sebenarnya sudah berlangsung sejak generasi orang tua kami terdahulu,” ujar Ginoni Kosepa.
Ginoni menjelaskan lebih lanjut bahwa kualitas air sungai yang menjadi sumber utama warga saat ini sangat mengkhawatirkan. Air berwarna keruh kecokelatan menyerupai teh, serta terasa payau dan asam akibat intrusi air laut. Kondisi ini kian mengancam kesehatan warga karena keberadaan tempat pembuangan sampah umum yang berjarak hanya sekitar 29 meter dari tepi sungai.
Atas kondisi tersebut, Ginoni mendesak Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni bersama pihak perusahaan melalui skema dana Corporate Social Responsibility (CSR) dan keberlanjutan program seperti BP Tangguh untuk segera menghadirkan solusi permanen.
“Kami mengusulkan agar segera dilakukan revitalisasi bak penampungan air bekas fasilitas perusahaan sagu, pengadaan mesin pompa, serta penarikan pipa air tawar sepanjang kurang lebih 3 kilometer menuju pemukiman warga agar kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi,” pungkas Ginoni.
Melalui kebersamaan dan komunikasi yang proaktif ini, masyarakat optimistis bahwa dialog konstruktif yang dibangun akan menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara warga, pemerintah daerah, dan pelaku industri. Langkah bersama ini diharapkan dapat segera merealisasikan pembangunan infrastruktur air bersih yang mandiri dan berkelanjutan, sekaligus membawa dampak positif bagi kualitas hidup dan kesejahteraan seluruh warga Distrik Tomu ke depan. [RF]